UNBK
Ujian Nasional (UN)
akan dilangsungkan secara serentak di 79.000 SMP dan SMA sederajat di seluruh
Indonesia, mulai Senin (13/04). Dari puluhan ribu sekolah tersebut, ada
sejumlah sekolah yang menggelar UN berbasis komputer. Metode semacam ini adalah
yang pertama di Indonesia.
Dari 556 sekolah di
Indonesia yang mengadakan UN berbasis komputer, salah satunya ialah SMA 70 di
Jakarta Selatan. Berdasarkan pemantauan BBC, komputer-komputer di sekolah
tersebut telah siap digunakan. Bahkan, Wakil Kepala Sekolah Syahroni mengaku
telah meminta PLN untuk menjaga pasokan listrik agar ujian dapat berjalan tanpa
gangguan.
Kalaupun terjadi pemadaman listrik, menurutnya, hasil pekerjaan
siswa selama ujian sudah tersimpan dalam server sehingga ketika gangguan listrik bisa diatasi
siswa bisa langsung melanjutkan ujian. Adapun waktu yang hilang selama listrik
padam tidak akan diperhitungkan.
Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan UN berbasis komputer sengaja dimulai demi
berbagai alasan, termasuk menekan biaya.
Image captionMenteri
Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan UN berbasis komputer
sengaja dimulai demi berbagai alasan, termasuk menekan biaya.
Tekan biaya
“Anda bisa bayangkan apabila soal ujian yang dicetak di Sulawesi
Selatan harus dikirim ke Kepulauan Sangihe di bagian utara Sulawesi. Soal-soal
itu dibawa melalui jalan darat, dibawa terbang, dibawa melalui laut agar sampai
di tempat. Lalu, bayangkan jika di sana ada akses internet kemudian di
sekolahnya adaserver dan komputer.
Pengiriman akan jauh lebih simpel, biaya jauh lebih murah karena tidak perlu
dicetak dan tidak perlu distribusi yang mahal,” papar Anies.
Kendati demikian,
Anies menegaskan Kemdikbud tidak memaksa sekolah untuk ikut UN berbasis
komputer. Metode itu, tegasnya, hanya bisa dilakukan sekolah yang memiliki
jumlah komputer minimum sepertiga dari jumlah siswa yang ikut ujian.
“Yang sudah siap pakai
komputer, pakai komputer. Yang belum siap, pakai kertas. Karena ini tujuannya
melaksanan UN, bukan menggunakan komputer,” katanya kepada wartawan BBC
Indonesia, Jerome Wirawan.
Belum siap
Dengan kondisi
infrastruktur Indonesia saat ini, sejumlah kalangan menilai UN berbasis
komputer belum saatnya diterapkan.
“Pelaksanaannya
terlalu cepat karena Indonesia bukan Jakarta, bukan kota-kota besar. Berapa
persen anak Indonesia di daerah-daerah yang bisa memakai komputer dengan baik?
Apa perlu secepat itu, apalagi dalam kondisi listrik di Indonesia suka mati dan
hidup?” tanya Profesor Soedijarto, selaku guru besar Universitas Negeri
Jakarta.
Pandangan itu ditepis
Mendikbud Anies Baswedan. Dia merujuk fakta bahwa dari 208.000 sekolah di
Indonesia, 118.000 di antaranya sudah memiliki jaringan internet.
“Jangan underestimate negeri
kita. Negeri kita ini luar biasa. Penetrasi listrik juga akan digenjot
tahun-tahun ke depan. Kita tidak berencana menerapkan UN berbasis komputer di
seluruh sekolah tahun ini,” ujarnya.
Image captionSMA
70 di Jakarta Selatan ialah satu dari 556 sekolah di Indonesia yang mengadakan
Ujian Nasional berbasis komputer.
Penentu kelulusan
Selain adanya ujian
berbasis komputer, UN tahun ini tidak menjadi penentu kelulusan siswa.
Kelulusan murid ditentukan oleh sekolah melalui hasil nilai rapor dan ujian
akhir sekolah.
“Tujuan UN adalah
untuk mengukur kinerja seorang siswa. Maka, anak belajar bukan karena takut
tidak lulus, tapi karena nilai ini dipakai untuk melanjutkan ke jenjang yang
lebih tinggi. Kalau Anda ingin masuk ke universitas yang Anda inginkan,
tunjukkan nilai skor UN yang tinggi. Jadi, motivasinya berubah,” kata Anies.
Kebijakan itu
ditanggapi gembira oleh para siswa tingkat akhir SMP maupun SMA. Azhar Aditya,
misalnya. Pelajar kelas 12 SMA 70 itu mengaku diberikan keringanan lantaran UN
tidak lagi menjadi penentu kelulusan.
“Ada kelegaan karena
UN tak menentukan kelulusan. Cuma tetap saja saya mempersiapkan diri
sebaik-baiknya untuk menghadapi UN karena hasilnya mempengaruhi penerimaan di
universitas negeri,” katanya.
Ujian Nasional tahun
ini diikuti sedikitnya 7,3 juta siswa yang tersebar di 79.000 sekolah di
seluruh Indonesia.


