Senin, 14 Desember 2015

UNBK

Ujian Nasional (UN) akan dilangsungkan secara serentak di 79.000 SMP dan SMA sederajat di seluruh Indonesia, mulai Senin (13/04). Dari puluhan ribu sekolah tersebut, ada sejumlah sekolah yang menggelar UN berbasis komputer. Metode semacam ini adalah yang pertama di Indonesia.
Dari 556 sekolah di Indonesia yang mengadakan UN berbasis komputer, salah satunya ialah SMA 70 di Jakarta Selatan. Berdasarkan pemantauan BBC, komputer-komputer di sekolah tersebut telah siap digunakan. Bahkan, Wakil Kepala Sekolah Syahroni mengaku telah meminta PLN untuk menjaga pasokan listrik agar ujian dapat berjalan tanpa gangguan.
Kalaupun terjadi pemadaman listrik, menurutnya, hasil pekerjaan siswa selama ujian sudah tersimpan dalam server sehingga ketika gangguan listrik bisa diatasi siswa bisa langsung melanjutkan ujian. Adapun waktu yang hilang selama listrik padam tidak akan diperhitungkan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan UN berbasis komputer sengaja dimulai demi berbagai alasan, termasuk menekan biaya.
Description: http://ichef-1.bbci.co.uk/news/ws/624/amz/worldservice/live/assets/images/2015/04/12/150412125455_anies_baswedan_624x351_bbc.jpgImage captionMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan UN berbasis komputer sengaja dimulai demi berbagai alasan, termasuk menekan biaya.
Tekan biaya
“Anda bisa bayangkan apabila soal ujian yang dicetak di Sulawesi Selatan harus dikirim ke Kepulauan Sangihe di bagian utara Sulawesi. Soal-soal itu dibawa melalui jalan darat, dibawa terbang, dibawa melalui laut agar sampai di tempat. Lalu, bayangkan jika di sana ada akses internet kemudian di sekolahnya adaserver dan komputer. Pengiriman akan jauh lebih simpel, biaya jauh lebih murah karena tidak perlu dicetak dan tidak perlu distribusi yang mahal,” papar Anies.
Kendati demikian, Anies menegaskan Kemdikbud tidak memaksa sekolah untuk ikut UN berbasis komputer. Metode itu, tegasnya, hanya bisa dilakukan sekolah yang memiliki jumlah komputer minimum sepertiga dari jumlah siswa yang ikut ujian.
“Yang sudah siap pakai komputer, pakai komputer. Yang belum siap, pakai kertas. Karena ini tujuannya melaksanan UN, bukan menggunakan komputer,” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.
Belum siap
Dengan kondisi infrastruktur Indonesia saat ini, sejumlah kalangan menilai UN berbasis komputer belum saatnya diterapkan.
“Pelaksanaannya terlalu cepat karena Indonesia bukan Jakarta, bukan kota-kota besar. Berapa persen anak Indonesia di daerah-daerah yang bisa memakai komputer dengan baik? Apa perlu secepat itu, apalagi dalam kondisi listrik di Indonesia suka mati dan hidup?” tanya Profesor Soedijarto, selaku guru besar Universitas Negeri Jakarta.
Pandangan itu ditepis Mendikbud Anies Baswedan. Dia merujuk fakta bahwa dari 208.000 sekolah di Indonesia, 118.000 di antaranya sudah memiliki jaringan internet.
“Jangan underestimate negeri kita. Negeri kita ini luar biasa. Penetrasi listrik juga akan digenjot tahun-tahun ke depan. Kita tidak berencana menerapkan UN berbasis komputer di seluruh sekolah tahun ini,” ujarnya.
Description: http://ichef.bbci.co.uk/news/ws/624/amz/worldservice/live/assets/images/2015/04/12/150412130756_indonesia_exam_school_624x351_bbc.jpgImage captionSMA 70 di Jakarta Selatan ialah satu dari 556 sekolah di Indonesia yang mengadakan Ujian Nasional berbasis komputer.
Penentu kelulusan
Selain adanya ujian berbasis komputer, UN tahun ini tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Kelulusan murid ditentukan oleh sekolah melalui hasil nilai rapor dan ujian akhir sekolah.
“Tujuan UN adalah untuk mengukur kinerja seorang siswa. Maka, anak belajar bukan karena takut tidak lulus, tapi karena nilai ini dipakai untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kalau Anda ingin masuk ke universitas yang Anda inginkan, tunjukkan nilai skor UN yang tinggi. Jadi, motivasinya berubah,” kata Anies.
Kebijakan itu ditanggapi gembira oleh para siswa tingkat akhir SMP maupun SMA. Azhar Aditya, misalnya. Pelajar kelas 12 SMA 70 itu mengaku diberikan keringanan lantaran UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan.
“Ada kelegaan karena UN tak menentukan kelulusan. Cuma tetap saja saya mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi UN karena hasilnya mempengaruhi penerimaan di universitas negeri,” katanya.
Ujian Nasional tahun ini diikuti sedikitnya 7,3 juta siswa yang tersebar di 79.000 sekolah di seluruh Indonesia.


Description: Hasil gambar untuk ujian nasional berbasis komputer

Sabtu, 26 September 2015

WR. SUPRATMAN



Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]
Ayahnya bernama Joemeno Kartodikromo, seorang tentara KNIL Belanda, dan ibunya bernama Siti Senen.Ia adalah anak dari seorang sersan di Batalyon VIII. Salah satu kakaknya yang juga ikut menorehkan sejarah kesuksesan beliau adalah Roekijem yang bersuamikan seorang Belanda yang bernama Willem van Eldik.

Ketika WR Soepratman berumur 11 tahun, ia ikut kakaknya Roekitjem yang berdomisili di Makassar. WR Soepratman kemudian disekolahkan oleh kakak iparnya.
Soepratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama tiga tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool diMakassar sampai selesai. Ketika berumur 20 tahun, lalu dijadikan guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun selanjutnya ia mendapatijazah Klein Ambtenaar.
Beberapa waktu lamanya ia bekerja pada sebuah perusahaan dagang. Dari Makassar, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita.Pekerjaan itu tetap dilakukannya sewaktu sudah tinggal di Jakarta. Dalam pada itu ia mulai tertarik kepada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa.Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.
Soepratman dipindahkan ke kota Sengkang. Di situ tidak lama lalu minta berhenti dan pulang ke Makassar lagi. Roekijem sendiri sangat gemar akan sandiwara dan musik. Banyak karangannya yang dipertunjukkan di mes militer.Selain itu Roekijem juga senang bermain biola, kegemarannya ini yang membuat Soepratman juga senang main musik dan membaca-baca buku musik.
W.R. Soepratman tidak beristri, serta tidak pernah mengangkat anak.
Soepratman tertantang, lalu mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya, pada waktu itu ia berada di Bandung dan pada usia 21 tahun.
Pada bulan Oktober 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II.Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum (secara intrumental dengan biola atas saran Soegondo berkaitan dengan kondisi dan situasi pada waktu itu, lihatSugondo Djojopuspito). Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya.Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional.Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan.Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.
Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa.Tetapi, pencipta lagu itu, Wage Roedolf Soepratman, tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan.
Belanda begitu khawatir akan efek persatuan yang ditimbulkan oleh lagu itu. Akhirnya Belanda selalu memburu WR Soepratman yang telah menciptakan lagu tersebut.Karena selalu menghindar dari kejaran polisi Belanda, W Soepratman akhirnya kelelahan dan jatuh sakit di Surbaya. WR Soepratman juga menciptakan lagu “Matahari Terbit” pada tahun 1938, ia kemudian menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu NIROM di jalan Embong Malang yang akhirnya membuatnya benar-benar ditangkap oleh Belanda dan dijebloskan di penjara Kalisosok Surabaya.

Kesehatannya yang menurun drastis ditambah tekanan fisik serta psikis karena diburu oleh Belanda membuat WR Soepratman akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia pada hari Rabo Wage, tanggal 17 Agustus 1938.Beliau meninggal dunia tepatnya di Jl Mangga no 21 Surabaya dan dimakamkan secara Islam di Makam Umum Kapasan, Jl. Kenjeran Surabaya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjz1ATLrFIyoR_W_Uuto4YOYBNj-sD4hRxySEig7Q-i5VI26CQ9vyWPC4FQIPSRMMyQCi9f-VebFtcXC-VbXKg9R9IfujfsqDEiVFki7KXgmyNliYxrbgrCIMwkAYPMAaAZppbR6ukr4h1k/s1600/biografi+wr+soepratman+2.jpg
Makam WR Supratman

WR Soeprtman telah berjasa dalam membuat lagu yang bisa menyatukan rakyat Indonesia dan memberikan kobaran semangat demi terciptanya Indonesia Merdeka.Namun WR Sepratman sendiri tak sempat menghirup udara kemerdekaan karena keburu meninggal.Beliau tidak pernah menikah dan memiliki anak bahkan anak angkat sekalipun.Hidupnya diabdikan untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui lagu.
Sebelum meninggal, WR Soepratman sempat menulis sebuah surat yang berisi seperti berikut : 

“Nasipkoe soedah begini.Inilah yang di soekai oleh Pemerintah Hindia Belanda.Biar saja meninggal, Indonesia pasti merdeka”.

Yang artinya : “Takdirku memang begini. Inilah yang diinginkan pemerintah Hindia Belanda.Biarlah saya meninggal, Indonesia pasti merdeka”.

Selain Indonesia Raya dan Matahari Terbit, WR Soepratman juga menciptakan lagu-lagu perjuangan lainnya. Berikut ini adalah lagu-lagu karya beliau :

Kebangsaan Indonesia Raya (1928),
Indonesia Ibuku (1928),
Bendera Kita Merah Putih (1929), 
Raden Ajeng Kartini (1929),
Lagu Mars Kepanduan Bangsa Indonesia (1930), 
Di Timoer Matahari (1931), 
Mars Parindra (1937), 
Mars Soerya Wirawan (1937), 
Matahari Terbit (1938), 
dan lagu Selamat Tinggal (1938) belum terselesaikan.

WR Soepratman juga mengarang buku-buku yang isinya mengajak untuk bersatu, seperti Perawan Desa, Darah Moeda dan Kaoem Panatik (1929).

Pada tanggal 26 Juni 1958 dikeluarkanlah Kepres No 44/1958 yang isinya menetapkan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_1G6kYiI6Bu0tS8P2i1mMAz3D_Xp0-QvPGacWSsr8Ur3v1DzSGGAdEEnSv8kHkT8MMYo_jM8MSwJ2HJLyTt2BH98N17zpi-SRNe7JS2xGYJ8drI4SCatIeFgk7vryKPr0buU29KNnxv0f/s1600/biografi+wr+soepratman+3.jpg











Lagu
Dari susunan liriknya, merupakan soneta-atau sajak 14 baris yang terdiri dari satu oktaf (atau dua kuatren) dan satu sekstet. Penggunaan bentuk ini dilihat sebagai “mendahului zaman” (avant garde), meskipun soneta sendiri sudah populer di Eropa semenjak era Renaisans. Rupanya penggunaan soneta tersebut mengilhami karena lima tahun setelah dia dikumandangkan, para seniman Angkatan Pujangga Baru mulai banyak menggunakan soneta sebagai bentuk ekspresi puitis.
Lirik Indonesia Raya merupakan seloka atau pantun berangkai, menyerupai cara empu Walmiki ketika menulis epik Ramayana. Dengan kekuatan liriknya itulah Indonesia Raya segera menjadi seloka sakti pemersatu bangsa, dan dengan semakin dilarang oleh Belanda, semakin kuatlah ia menjadi penyemangat dan perekat bangsa Indonesia.
Cornel Simanjuntak dalam majalah Arena telah menulis bahwa ada tekanan kata dan tekanan musik yang bertentangan dalam kata berseru dalam kalimat Marilah kita berseru. Seharusnya kata ini diucapkan berseru (tekanan pada suku ru. Tetapi karena tekanan melodinya, kata itu terpaksa dinyanyikan berseru (tekanan pada se). Selain itu, rentang nada pada Indonesia Raya secara umum terlalu besar untuk lagu yang ditujukan bagi banyak orang. Dibandingkan dengan lagu-lagu kebangsaan lain yang umumnya berdurasi setengah menit bahkan ada yang hanya 19 detik, Indonesia Raya memang jauh lebih panjang.
Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan — justru — oleh orang Belanda (atau Belgia) bernama Jos Cleber yang tutup usia tahun 1999. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.
Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan yang agung, namun gagah berani.



sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Wage_Rudolf_Soepratman